Kamis, 20 November 2014



CintaTerhempasOlehWaktu

Oleh :

Nama
Saroh Hani
Tempat, tgl lahir
Rembang, 14 Juni 1997
Alamat
DesaTlogotunggal, RT 03 RW 02 Kec. Sumber, Kab. Rembang
Cita-cita
Perawat
No HP
085799675270
Facebook
HaaniiAdjaa
Tweeter
@ Hani Saroh
Webblog
Hani 2012 blogspot.com
BacaanFavorit
KetikaCintaBertasbih
TokohIdola
Mario Teguh
Semboyan/moto
Kesuksesan itu perlu pengorbanan dan perjuangan



Ketika Sinta baru masuk bangku SMA, ia berkenalan dengan seorang cowok. Tetapi bukan dari satu sekolah melainkan siswa dari sekolah lain. Cowokitubernama Yusuf, nama lengkap-nya Yusuf Pratama. Dia sekolah di SMK Karya Bangsa sedangkan Sinta sekolah di SMA Al Hidayah. Jarak sekolah Yusuf dan se-kolah Sinta sangat dekat.
Saat pagi berangkat sekolah Yusuf melihat Sinta dijalan, dengan sengaja Yusuf menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu, ia menyapa Sinta.
“Hai, Sinta. Kenapa jalan sen-dirian?” tanya Yusuf.
“Nggak kenapa-kenapa kok, Cuma lagi pingin jalan sendiri aja. Lagian pagi-pagi gini bisa nikmatin udara pagi yang segar,”  jawab Sinta.
“Aku temenin boleh nggak?Biar bias lebih akrab gitu…hehehe” ajak Yusuf sambil tersenyum.
“Boleh-boleh saja kok, memangnya kamu nggak berangkat pakai mobil aja? Kok mau ikut jalan kaki sama aku” kata Sinta.
“Hehehe nggak kok, pingin jalan kaki sama kamu aja. Sambil ngobrol-ngobrol ama kamu biar akrab gitu” jawab Yusuf.
“Oh, iya. Kalau boleh tau kamu ngambil jurusan apa?” Tanya Sinta.
“Aku ambil jurusan Multimedia, kalau kamu ambil jurusan apa?” tanya Yusuf.
“Aku ambil jurusan IPA” jawab Sinta sambil tersenyum.
Tak disangka mereka berdua berjalan sudah cukup jauh, bahkan mereka hampir sampai di depan sekolahnya Sinta. Tepat pukul 06.45 mereka berpisah, Sinta masuk  kesekolahnya begitu juga dengan Yusuf.
Pada saat jam istirahat, Sinta. Tanpa ia sadari telah memikirkan Yusuf, sambil bertanya pada dirinya sendiri.


“Kenapa aku selalu teringat Yusuf ya?Mungkinkah aku suka padanya? Ahh tak mungkin, ini hanya perasaan kagumku padanya.” dalam hati Sinta
Tak disangka waktu cepat berlalu, terdengar bel masuk kelas.Sinta bergegas mengeluarkan buku pelajaran yang ada di dalam tasnya. Sinta pun, mengikuti pe-lajaran dengan senang hati.
Tak terasa waktu begitu cepat, bel pulang sekolah telah berbunyi. Ia pun keluar dari kelas dan bergegas pulang. Tetapi saat Sinta sampai di depan pintu gerbang sekolah Yusuf telah menunggu-nya.
”Hai Sinta?” sambil tersenyum.
“Hai” balas Sinta.
“Mau  langsung pulang kerumah atau kemana nih?” tanya Yusuf.
Langsung pulang ke rumah, Yus.” jawab Sinta.
“Mau nggak kalau aku ajak jalan? ajak Yusuf.
“ Gimana ya? Memangnya mau jalan kemana, Yus? tanya Sinta.
“Ke suatu tempat yang paling indah, pasti kamu belum pernah datang kesitu. Mau nggak?”  tanya Yusuf.
“Maaf ya, Yus.Aku nggak bisa, aku harus belajar. Soalnya besok aku ada ulangan, jadi aku harus belajar di rumah,” jawab Sinta.
“Iya sudah, nggak apa-apa kok.” balas Yusuf.
Dalam perjalanan Yusuf ter-menung memikirkan Sinta, sebenarnya Yusuf mau mengajak Sinta jalan ke te-mpat yang paling indah, sekaligus mau nyatain perasaannya ke Sinta.Tapi sinta lagi nggak bisa di ajak jalan, Yusuf pun terlihat sedih.
Dalam hati Yusuf berkata,“mungkin saat ini waktunya belum tepat, mungkin terlalu cepat ya? Jika aku nyatain per-asaanku yang sebenarnya pada Sinta. Ahhhh, tidak. Aku harus nyatain perasaan-ku padanya, harus?
Yusuf pun melanjutkan perjalanan pulang.
Tak terasa waktu begitu cepat, Yusuf mengenal Sinta pun sudah begitu lama. Saatnya yusuf harus memberanikan diri untuk nyatain perasanya ke Sinta.
Pagi itu Yusuf bertemu dengan Sinta, ia menyapanya.
“Sinta” panggil Yusuf.
“Iya, ada apa yus?” balas Sinta.
Nanti pulang sekolah, aku mau bicara sesuatu ama kamu? Tolong bisa ya, Sin.” pinta Yusuf.
“Iya, nanti aku usahain bisa deh. Memangaya mau bicara apa, Yus?” tanya Sinta.
“Nanti aja ya, Sin.” Balas Yusuf.
            Saat pulang sekolah mere-ka bertemu, Yusuf mengajak Sinta ke suatu tempat yang kemarin sempat ter-tunda untuk di datanginya dengan Sinta. Tanpa basa-basi Yusuf pun me-ngatakan yang sebenarnya. Bahwa ia sangat mencintai Sinta saat pertama kali baru bertemu. Rasa yang ada dalam hatinya itu sudah terlalu lama ia pendam. Dan mereka pun akhirnya jadian.
        Hari itu, hari yang paling indah dan bahagia buat Yusuf. Impiannya selama ini untuk menyatakan perasaan-nya ke Sinta telah terwujud. Mereka pun saling memandang dan tersenyum.
** * * 
        Hari-hari mereka lalui ber-sama, dengan penuh canda dan tawa. Belajar bersama, main bersama, hingga mereka mengucap janji untuk tidak saling meninggalkan.
        Pada minggu pagi yang cerah ini, Sinta dan Yusuf.Pergi jalan-jalan ke Pantai.Yusuf menjemput Sinta di rumah.
        “Assalammu’alaikum..” sambil mengetuk pintu rumah Sinta.
“Wa’alaikumsalam, temannya Sin-ta, nak?” tanya Ibu Sinta
“Iya, Bu. Saya Yusuf teman se-kolah Sinta.” jawab Yusuf.
“Di tunggu sebentar ya, nak.Ibu panggilkan Sinta dulu.” kata Ibu Sinta.
“Iya, Bu.” jawab Yusuf sambil ter-senyum.
Setelah beberapa menit Yusuf me-nunggu. Akahirnya Sinta keluar dari dalam sama ibunya.
Yusuf agak nerves bertemu dengan ibunya Sinta, karena baru pertama kali ini, Yusuf berani datang ke rumah Sinta.
“Maaf ya, Yus? Lama nunggu.” ka-ta Sinta.
“Nggak apa-apa kok, belum lama nunggu kok.” jawab Yusuf sambil ter-senyum.
“Mau pergi kemana ini, nak?” ta-nya ibu Sinta.
“Mau jalan-jalan ke pantai, bu.” Ja-wab Sinta.
“Kalau main hati-hati ya, nak. Ja-ngan lupa nanti cepat pulang.” kata ibu Sinta.
“Siap, Bu. Saya berangkat dulu ya, Bu.”  ucap Sinta sambil mengecup tangan ibunya.
Sinta dan Yusuf pun berpamitan dan keluar dari dalam rumah. Dan berang-kat menuju ke Pantai.
Setelah beberapa menit perjalan-an menuju pantai, akhirnya sampai. Se-sampainya di pantai mereka berjalan-jalan di pinggiran pantai yang indah, main air, bercanda-canda sambil berfoto-foto. Su-ngguh hari yang paling mengasyikkan untuk mereka berdua. Menghabiskan wa-ktu liburan bersama.
Tak terasa waktu begitu cepat, mereka harus cepat pulang. Tepat pukul 16.00 WIB Sinta sampai di rumah dan Yusuf pun langsung melanjutkan per-jalanan pulang ke rumahnya.
Sungguh waktu liburan yang me-nyenangkan, menikmati udara dan semilir angin pantai yang menyegarkan. Pe-mandangan yang begitu indah, di tambah dengan ombak yang menari-nari di dasaran pantai. Membuat hati lebih tenang dan nyaman, saat bersama kekasih tercinta. Memberikan kenangan yang manis untuk mereka.

* * * *
Mereka berpacaran sudah 3 tahun, masa-masa yang indah telah mereka lalui bersama.  Kini Sinta dan Yusuf telah lulus sekolah, Yusuf pun akan memulai kuliah-nya, sedangkan Sinta masih di rumah dan belum melanjutkan kuliah. Meskipun me-reka belum bisa melanjutkan kuliah ber-sama, Yusuf berjanji pada Sinta hubungan ini akan selalu baik-baik saja.
Tak kan pernah ada yang lain yang bisa menggantikan perasaan sayangnya pada Sinta. Hanya ada sinta seorang yang ada di dalam hatinya, selalu percaya dan saling mengerti, meskipun sekarang me-reka berjauhan. Tapi rasa cinta dan sa-yang pada Sinta masih tetap utuh, tak akan berkurang.
Sebelum Yusuf pergi untuk kuliah, ia main ke rumah Sinta untuk berpamitan. Sebelum berpamitan Yusuf berbicara ter-lebih dahulu pada Sinta.
“Sin, aku pamit buat pergi kuliah ya?”  kata Yusuf.
“Iya, jaga dirimu baik-baik disana. Jangan pernah lupain aku. Aku sangat mencintai dirimu, Yus. Aku berharap hu-bungan ini bisa berlanjut untuk se-lamanya.”  kata Sinta dengan nada sedih.
“Aku pun sangat mencintaimu, Sin. Bahkan aku lebih mencintaimu dari pada aku mencintaiku diriku sendiri. Aku janji, Sin. Aku akan selalu bersamamu, tak akan pernah mengkhianati cinta kita, Sin.” ja-wab Yusuf dengan yakin.
“Semoga kata-katamu benar, Yus.” balas Sinta.
“Aku ada sesuatu buat kamu. Ja-ngan di buka dulu ya, Sin?” ucap Yusuf sambil memberikan bingkisan yang di bawanya.
“Apa ini, Yus?” tanya Sinta.
“Nanti setelah kamu buka akan tau sendiri isinya apa, Sin.” kata Yusuf.
Aku pamit pulang dulu ya, Sin? Aku mau kemas-kemas barang perleng-kapanku. Jaga dirimu baik-baik ya, Sin? Aku selau menyayangimu.. I Miss U sayangku…” ucap Yusuf dengan nada sedih.
“I Miss U too, Yusuf.” balas Sinta dengan sedih.
Selang beberapa menit setelah yusuf pergi dari rumahnya.Sinta membuka bingkisan yang di berikan untuk dirinya. Tak lain berisi satu boneka Teddy Bear berwarna pink, di tengah-tengahnya ada bentuk love bertuliskan “I LOVE U” dan sepucuk surat yang berisi surat cinta.

“Tercipta Untukku”
Sekian lama ku lalui perjalanan cinta untuk menemukan cinta sejati, hing-ga akhirnya kini ku temukan cinta itu pada dirimu. Harus kuakui tiada yang se-perti dirimu engkaulah satu-satunya yang mam-pu menghadirkan mimpi indah dalam tidurku.
Izinkanlah aku tuk mengungkap-kan rasa sayang ini, tuk meraih setetes embun hati dan tempat terindah di hatimu.
Tak perlu kau tanyakan seberapa besar cintaku untukmu, aku datang untuk me-ncintaimu dan aku sungguh cinta, dalam hati ini hanya untukmu. Beri aku cinta yang tulus, setulus cintaku untukmu. Kini kuyakinkan dirimu bahwa engkau adalah cintaku yang ku cari selama ini dan hanya padamu ku berikan sisa cintaku.
Akan ku bawa kau melayang melewati ke-indahan dunia dengan berjuta rasa yang tercipta di antara kita yang kan membawa satu waktu yang kita nanti kan.

Berjanji lah tuk selalu disampingku karena tanpa dirimu, tak akan pernah terjadi. Dan demi waktu aku takakan me-ninggalkanmu, aku kan slalu disini untuk-mu, selamanya…. Karena untukku kau adalah seseorang  yang tercipta untukku.

Untuk Sinta, kekasih tersayang….

 Sinta membaca surat yang di buat Yusuf dengan tangis dan bahagia. Ter-nyata masih ada orang yang tulus me-ncitainya. Sinta semakin yakin bahwa Yusuf lah jodohnya. Yang di kirimkan sang pencipta untuk dirinya. Begitu besarnya rasa cinta Yusuf padanya.

* * * *
Sudah hampir 3 bulan Yusuf de-ngan Sinta jarang berkomunikasi. Bahkan sekarang Sinta tak tau bagaimana keadaan Yusuf. Yusuf hanya sesekali mengirim pesan lewat  facebook. Hati Sinta menjadi resah, tak tau yang apa ter-jadi pada Yusuf. Hari-hari Sinta menjadi resah, gelisah, tak menentu. Tak tau apa yang harus ia lakukan. Wajah Yusuf selalu membayangi dirinya.Ia mencoba mengirim pean lewat facebook berkali-kali belum ada balasan dari Yusuf. Ia mencoba me-nelpon tapi nomornya selalu tak aktif, pertanda apa ini? Sinta bingung harus berbuat apa. Tak tau harus bagaimana.
Berharap Yusuf nggak kenapa-kenapa. Hanya Yusuf satu-satunya orang yang di cintai Sinta, berharap dan selalu berharap yang terbaik untuk kekasihnya yang jauh di sana.
Saat malam yang sunyi Sinta duduk terdiam memikirkan Yusuf, dalam hati Sinta berkata “ Haruskah dirimu kan ku harap selalu? Sementara aku tak mam-pu menghampiri dirimu, jujur aku sangat mencintaimu. Kesederhanaanmu, ke-ber-anianmu, kagumkan jiwaku. Ingin ku bawa rinduku ini ke pangkuanmu.” Dalam hati Sinta
Hati Sinta begitu bimbang, tak tau arah harus melangkah kemana.

* * * *
Satu minggu Sinta terlarut dalam kesedihan,  tak nafsu makan. Selalu, me-mikirkan Yusuf.
Tiba-tiba telepon sinta bunyi, ternyata Yusuf menelponnya, kemudian ia bergegas untuk mengangkatnya.
“Hallo, Assalamu’alaikum..” jawab Sinta.
“Wa’alaikumsalam, maaf ya, Sin. Aku baru bisa hubungi kamu, kemarin aku lagi sibuk kuliah.” kata Yusuf.
“Iya nggak apa-apa, tapi setidak-nya balas pesan aku.Aku nggak bisa ka-mu cuekin, Yus. Aku khawatir dengan ke-adaanmu di sana. Aku takut kamu ke-napa-kenapa.” ucap Sinta.
“Maafin aku, Sin. Lain kali aku janji nggak akan gitu lagi, sekali lagi aku minta maaf ya? Aku udah bikin kamu cemas, Sin.” kata Yusuf.
“Iya, Yus. Sudahlah nggak apa-apa. Gimana keadaanmu di sana?” tanya Sinta.
“Alhamdulilah, aku di sini baik-baik saja, Sin. Kamu sendiri gimana, Sin?” ta-nya Yusuf.
“Alhamdulilah, aku juga baik. Tapi kemarin aku sempat sakit, Yus.” ucap Sinta.
“Ya allah, sakit apa, Sin? Jaga diri-mu baik-baik, Sin.Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa, Sin. Jangan  khawatirkan aku disini, Sin.   Aku bisa jaga diri di sini. Jangan berpikiran aneh-aneh  tentang aku, Sin. Aku nggak mungkin khianati cinta kita,  Sin. Percayalah padaku.” kata Yusuf.
“Iya, Yus. Aku percaya pada-mu. Sudah, lebih baik kita tidur, sudah terlalu malam.  Nggak baik buat kesehatan.” Ba-las Sinta.
“Oke, met  tidur ya sayangku. Mim-pi indah.”  ucap Yusuf.
“Iya, sama-sama. Assalammu’ala-ikum..”  ucap Sinta.
“Wa’alaikumsalam…” jawab Yusuf.
* * *  *
Beberapa bulan telah berlalu, kini Sinta hanya di rumah saja.Tak bisa me lanjutkan kuliah, karena faktor biaya.Sinta hanyalah anak orang yang kurang ber-kecukupan, hidup serba pas-pasan. Pe-nuh kesederhanaan, tak perlu ber-mewah-mewahan. Tapi kini ia terlarut dalam kesedihan, tak bisa kuliah bersama  ke-kasihnya.
Tanpa ia sadari, waktu begitu ce-pat. Yusuf mengirimkan pesan untuknya, yang berisi,
“Sinta, maafkan aku, aku nggak bisa nglanjutin hubungan kita. Maafin aku, karena aku telah jatuh hati pada teman kuliahku disini.Aku nggak bisa pungkiri rasaku padanya.Setiap hari aku selalu bersama saat pergi ke kuliah.Kini rasa sayangku telah berpihak padanya, maafin aku, Sin. Tak apa jika sekarang kau benci denganku, tapi aku coba buat jujur pada-mu, dari pada aku di sini terus mem-bohongimu. Hanya kata maaf yang bisa ku ucapkan untukmu, aku bukan yang terbaik untukmu.Semoga kau menemukan yang lebih baik dariku. Jaga dirimu.” pesan Yusuf.

Dengan tangis Sinta membaca pesan Yusuf.Tak tau kenapa Yusuf bisa mengkhianati cintanya. Cinta yang selama ini ia dambakan, ia harapkan, yang ia ba-nggakan tapi kini berubah seperti api yang membakar hatinya. Rasa cinta yang ada di dalam hatinya kini berubah jadi benci yang selamanya tak bisa di lupakannya.
Tapi Sinta harus sadar bahwa ia tak pantas untuk Yusuf, Sinta hanyalah or-ang biasa. Masih banyak kekurangan, wajar jika Yusuf terpikat hati dengan tem-an kuliahnya, yang lebih bisa mengerti Yusuf.
Kini Sinta harus rela menerima semua yang telah terjadi padanya.
Pada suatu malam, Sinta melamun membayangkan nasib malangnya. Kini ia merasa sendiri, sepi tanpa di temani orang yang pernah hadir dalam hidupnya.
Ia menulis sebuah puisi, untuk menghilangkan rasa sedih yang ada dalam hatinya.

“Cukup Sudah”

Lihatlah aku,
Merenung sendiri, meratapi luka yang kau beri,
Perasaan hati yang perih, me-mbuatku tersakiti,
kau lukai hati ini dengan tingkahmu,
Salah apa aku padamu?
Salah apa kau tega lakukan itu?
Kau buat luka ini,
Membekas menangis teriris perih,
Kau pergi bersama semua kenangan,
jauh dan semakin jauh kau me-ninggalkanku,
Kini aku sendiri, hanya ada luka yang membekas dihati yang me-nemani hari-hariku,
Cukup sudah kisah manis yang pernah kita lalui,
Semoga kau bahagia dengan pi-lihan hatimu.

Sinta harus rela menerima ke-adaan yang di alaminya, tersenyum meski ada beban berat dalam hatinya. Dan kini ia coba untuk mengawali hidup baru de-ngan semangat yang baru dan mulai meninggalkan masa lalu. Kini ia tau arti Cinta yang sesungguhnya. Cinta sejati tak akan pernah terhempas oleh waktu, hanya cinta palsu lah yang bisa mengempas cinta itu. 
Hanya ada satu makna kata cinta yang ada dibenakku “Jika sebuah cinta, ia akan menerima semua kelebihan bahkan kekurangan pun dianggap sebuah ke-indahan, bukan sebuah alasan untuk meninggalkannya.”


SELESAI




Tidak ada komentar:

Posting Komentar