CintaTerhempasOlehWaktu
Oleh :
|
Nama
|
Saroh Hani
|
![]() |
|
Tempat, tgl lahir
|
Rembang, 14 Juni 1997
|
|
|
Alamat
|
DesaTlogotunggal,
RT 03 RW 02 Kec. Sumber, Kab. Rembang
|
|
|
Perawat
|
||
|
No HP
|
085799675270
|
|
|
Facebook
|
HaaniiAdjaa
|
|
|
Tweeter
|
@ Hani Saroh
|
|
|
Webblog
|
Hani 2012 blogspot.com
|
|
|
BacaanFavorit
|
KetikaCintaBertasbih
|
|
|
TokohIdola
|
Mario Teguh
|
|
|
Semboyan/moto
|
Kesuksesan
itu perlu pengorbanan dan perjuangan
|
Ketika Sinta baru masuk bangku SMA, ia
berkenalan dengan seorang cowok. Tetapi bukan dari satu sekolah melainkan siswa dari sekolah
lain. Cowokitubernama Yusuf, nama lengkap-nya Yusuf Pratama. Dia sekolah di SMK
Karya Bangsa sedangkan Sinta sekolah di SMA Al Hidayah. Jarak sekolah Yusuf dan
se-kolah Sinta sangat dekat.
Saat pagi berangkat sekolah Yusuf
melihat Sinta dijalan, dengan sengaja Yusuf menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
Lalu, ia menyapa Sinta.
“Hai, Sinta. Kenapa jalan sen-dirian?”
tanya Yusuf.
“Nggak kenapa-kenapa kok, Cuma lagi pingin
jalan sendiri aja. Lagian pagi-pagi gini bisa nikmatin udara pagi yang segar,” jawab Sinta.
“Aku temenin boleh nggak?Biar bias lebih
akrab gitu…hehehe” ajak Yusuf sambil tersenyum.
“Boleh-boleh saja kok, memangnya kamu nggak
berangkat pakai mobil aja? Kok mau ikut jalan kaki sama aku” kata Sinta.
“Hehehe nggak kok, pingin jalan kaki
sama kamu aja. Sambil ngobrol-ngobrol ama kamu biar akrab gitu” jawab Yusuf.
“Oh, iya. Kalau boleh tau kamu ngambil
jurusan apa?” Tanya Sinta.
“Aku ambil jurusan Multimedia, kalau kamu
ambil jurusan apa?” tanya Yusuf.
“Aku ambil jurusan IPA” jawab Sinta sambil
tersenyum.
Tak disangka mereka berdua berjalan sudah
cukup jauh, bahkan mereka hampir sampai
di depan sekolahnya Sinta. Tepat pukul 06.45 mereka berpisah, Sinta masuk kesekolahnya begitu juga dengan Yusuf.
Pada saat jam istirahat, Sinta. Tanpa ia
sadari telah memikirkan Yusuf, sambil bertanya pada dirinya sendiri.
“Kenapa aku selalu teringat Yusuf ya?Mungkinkah
aku suka padanya? Ahh tak mungkin, ini hanya perasaan kagumku padanya.” dalam
hati Sinta
Tak disangka waktu cepat berlalu,
terdengar bel masuk kelas.Sinta bergegas mengeluarkan buku pelajaran yang ada
di dalam tasnya. Sinta pun, mengikuti pe-lajaran dengan senang hati.
Tak terasa waktu begitu cepat, bel
pulang sekolah telah berbunyi. Ia pun keluar dari kelas dan bergegas pulang.
Tetapi saat Sinta sampai di depan pintu gerbang sekolah Yusuf telah menunggu-nya.
”Hai Sinta?” sambil tersenyum.
“Hai” balas Sinta.
“Mau
langsung pulang kerumah atau kemana nih?” tanya Yusuf.
“Langsung
pulang ke rumah, Yus.”
jawab Sinta.
“Mau nggak kalau aku ajak jalan? ajak
Yusuf.
“ Gimana ya? Memangnya mau jalan
kemana, Yus?
tanya Sinta.
“Ke suatu tempat yang paling indah,
pasti kamu belum pernah datang
kesitu. Mau nggak?” tanya Yusuf.
“Maaf ya, Yus.Aku nggak bisa, aku harus belajar. Soalnya besok aku
ada ulangan, jadi aku harus belajar di rumah,” jawab Sinta.
“Iya sudah, nggak apa-apa kok.” balas
Yusuf.
Dalam perjalanan Yusuf ter-menung
memikirkan Sinta, sebenarnya Yusuf mau mengajak Sinta jalan ke te-mpat yang
paling indah, sekaligus mau nyatain perasaannya ke Sinta.Tapi sinta lagi nggak
bisa di ajak jalan, Yusuf pun terlihat sedih.
Dalam hati Yusuf berkata,“mungkin saat
ini waktunya belum tepat, mungkin terlalu cepat ya? Jika aku nyatain per-asaanku
yang sebenarnya pada Sinta. Ahhhh, tidak. Aku harus nyatain perasaan-ku
padanya, harus?
Yusuf pun melanjutkan perjalanan
pulang.
Tak terasa waktu begitu cepat, Yusuf
mengenal Sinta pun sudah begitu lama. Saatnya yusuf harus memberanikan diri
untuk nyatain perasanya ke Sinta.
Pagi itu Yusuf bertemu dengan Sinta,
ia menyapanya.
“Sinta” panggil Yusuf.
“Iya, ada apa yus?” balas
Sinta.
“Nanti pulang sekolah, aku mau bicara
sesuatu ama kamu? Tolong bisa ya, Sin.” pinta Yusuf.
“Iya, nanti aku usahain
bisa deh. Memangaya mau bicara apa, Yus?” tanya Sinta.
“Nanti aja ya, Sin.” Balas
Yusuf.
Saat pulang sekolah mere-ka bertemu, Yusuf mengajak Sinta
ke suatu tempat yang kemarin sempat ter-tunda untuk di datanginya dengan Sinta.
Tanpa basa-basi Yusuf pun me-ngatakan yang sebenarnya. Bahwa ia sangat
mencintai Sinta saat pertama kali baru bertemu. Rasa yang ada dalam hatinya itu
sudah terlalu lama ia pendam. Dan mereka pun akhirnya jadian.
Hari itu, hari yang paling indah dan bahagia buat Yusuf. Impiannya
selama ini untuk menyatakan perasaan-nya ke Sinta telah terwujud. Mereka pun saling
memandang dan tersenyum.
** * *
Hari-hari mereka lalui ber-sama, dengan penuh canda dan tawa.
Belajar bersama, main bersama, hingga mereka mengucap janji untuk tidak saling
meninggalkan.
Pada minggu pagi yang cerah ini, Sinta dan Yusuf.Pergi
jalan-jalan ke Pantai.Yusuf menjemput Sinta di rumah.
“Assalammu’alaikum..” sambil mengetuk pintu rumah Sinta.
“Wa’alaikumsalam, temannya Sin-ta,
nak?” tanya Ibu Sinta
“Iya, Bu. Saya Yusuf teman se-kolah
Sinta.” jawab Yusuf.
“Di tunggu sebentar ya, nak.Ibu
panggilkan Sinta dulu.” kata Ibu Sinta.
“Iya, Bu.” jawab Yusuf sambil ter-senyum.
Setelah beberapa menit Yusuf me-nunggu.
Akahirnya Sinta keluar dari dalam sama ibunya.
Yusuf agak nerves bertemu dengan
ibunya Sinta, karena baru pertama kali ini, Yusuf berani datang ke rumah Sinta.
“Maaf ya, Yus? Lama nunggu.” ka-ta
Sinta.
“Nggak apa-apa kok, belum lama nunggu
kok.” jawab Yusuf sambil ter-senyum.
“Mau pergi kemana ini, nak?” ta-nya
ibu Sinta.
“Mau jalan-jalan ke pantai, bu.” Ja-wab
Sinta.
“Kalau main hati-hati ya, nak. Ja-ngan
lupa nanti cepat pulang.” kata ibu Sinta.
“Siap, Bu. Saya berangkat dulu ya, Bu.”
ucap Sinta sambil mengecup tangan
ibunya.
Sinta dan Yusuf pun berpamitan dan
keluar dari dalam rumah. Dan berang-kat menuju ke Pantai.
Setelah beberapa menit perjalan-an
menuju pantai, akhirnya sampai. Se-sampainya di pantai mereka berjalan-jalan di
pinggiran pantai yang indah, main air, bercanda-canda sambil berfoto-foto. Su-ngguh
hari yang paling mengasyikkan untuk mereka berdua. Menghabiskan wa-ktu liburan
bersama.
Tak terasa waktu begitu cepat, mereka
harus cepat pulang. Tepat pukul 16.00 WIB Sinta sampai di rumah dan Yusuf pun
langsung melanjutkan per-jalanan pulang ke rumahnya.
Sungguh waktu liburan yang me-nyenangkan,
menikmati udara dan semilir angin pantai yang menyegarkan. Pe-mandangan yang
begitu indah, di tambah dengan ombak yang menari-nari di dasaran pantai. Membuat
hati lebih tenang dan nyaman, saat bersama kekasih tercinta. Memberikan
kenangan yang manis untuk mereka.
*
* * *
Mereka
berpacaran sudah 3 tahun, masa-masa yang indah telah mereka lalui bersama. Kini Sinta dan Yusuf telah lulus sekolah,
Yusuf pun akan memulai kuliah-nya, sedangkan Sinta masih di rumah dan belum
melanjutkan kuliah. Meskipun me-reka belum bisa melanjutkan kuliah ber-sama,
Yusuf berjanji pada Sinta hubungan ini akan selalu baik-baik saja.
Tak
kan pernah ada yang lain yang bisa menggantikan perasaan sayangnya pada Sinta.
Hanya ada sinta seorang yang ada di dalam hatinya, selalu percaya dan saling
mengerti, meskipun sekarang me-reka berjauhan. Tapi rasa cinta dan sa-yang pada
Sinta masih tetap utuh, tak akan berkurang.
Sebelum
Yusuf pergi untuk kuliah, ia main ke rumah Sinta untuk berpamitan. Sebelum
berpamitan Yusuf berbicara ter-lebih dahulu pada Sinta.
“Sin,
aku pamit buat pergi kuliah ya?” kata
Yusuf.
“Iya,
jaga dirimu baik-baik disana. Jangan pernah lupain aku. Aku sangat mencintai
dirimu, Yus.
Aku berharap hu-bungan ini bisa berlanjut untuk se-lamanya.”
kata Sinta dengan nada sedih.
“Aku
pun sangat mencintaimu, Sin. Bahkan aku lebih mencintaimu dari pada aku
mencintaiku diriku sendiri. Aku janji, Sin. Aku akan selalu bersamamu, tak akan
pernah mengkhianati cinta kita, Sin.” ja-wab Yusuf dengan yakin.
“Semoga
kata-katamu benar, Yus.” balas Sinta.
“Aku
ada sesuatu buat kamu. Ja-ngan di buka dulu ya, Sin?” ucap Yusuf sambil
memberikan bingkisan yang di bawanya.
“Apa
ini, Yus?” tanya Sinta.
“Nanti
setelah kamu buka akan tau sendiri isinya apa, Sin.” kata Yusuf.
“Aku pamit pulang dulu ya, Sin? Aku mau
kemas-kemas barang perleng-kapanku. Jaga dirimu baik-baik ya, Sin? Aku selau
menyayangimu.. I Miss U sayangku…” ucap Yusuf dengan nada sedih.
“I
Miss U too, Yusuf.” balas Sinta dengan sedih.
Selang beberapa menit setelah yusuf
pergi dari rumahnya.Sinta membuka bingkisan yang di berikan untuk dirinya. Tak
lain berisi satu boneka Teddy Bear berwarna pink, di tengah-tengahnya ada
bentuk love bertuliskan “I LOVE U” dan sepucuk surat yang berisi surat cinta.
“Tercipta Untukku”
Sekian lama ku lalui perjalanan cinta
untuk menemukan cinta sejati, hing-ga akhirnya kini ku temukan cinta itu pada
dirimu. Harus kuakui tiada yang se-perti dirimu engkaulah satu-satunya yang mam-pu
menghadirkan mimpi indah dalam tidurku.
Izinkanlah aku tuk mengungkap-kan rasa sayang ini, tuk meraih setetes embun hati
dan tempat terindah di hatimu.
Tak perlu kau tanyakan seberapa besar cintaku untukmu, aku datang untuk me-ncintaimu dan aku sungguh cinta, dalam hati ini hanya untukmu. Beri aku cinta yang tulus, setulus cintaku untukmu. Kini kuyakinkan dirimu bahwa engkau adalah cintaku yang ku cari selama ini dan hanya padamu ku berikan sisa cintaku.
Akan ku bawa kau melayang melewati ke-indahan dunia dengan berjuta rasa yang tercipta di antara kita yang kan membawa satu waktu yang kita nanti kan.
Tak perlu kau tanyakan seberapa besar cintaku untukmu, aku datang untuk me-ncintaimu dan aku sungguh cinta, dalam hati ini hanya untukmu. Beri aku cinta yang tulus, setulus cintaku untukmu. Kini kuyakinkan dirimu bahwa engkau adalah cintaku yang ku cari selama ini dan hanya padamu ku berikan sisa cintaku.
Akan ku bawa kau melayang melewati ke-indahan dunia dengan berjuta rasa yang tercipta di antara kita yang kan membawa satu waktu yang kita nanti kan.
Berjanji lah tuk selalu disampingku
karena tanpa dirimu, tak akan pernah terjadi. Dan demi waktu aku takakan me-ninggalkanmu,
aku kan slalu disini untuk-mu, selamanya…. Karena untukku kau adalah
seseorang yang tercipta untukku.
Untuk Sinta, kekasih tersayang….
Sinta membaca surat yang di buat Yusuf dengan
tangis dan bahagia. Ter-nyata masih ada orang yang tulus me-ncitainya. Sinta
semakin yakin bahwa Yusuf lah jodohnya. Yang di kirimkan sang pencipta untuk
dirinya. Begitu besarnya rasa cinta Yusuf padanya.
*
* * *
Sudah
hampir 3 bulan Yusuf de-ngan Sinta jarang berkomunikasi. Bahkan sekarang Sinta
tak tau bagaimana keadaan Yusuf. Yusuf hanya sesekali mengirim pesan lewat facebook. Hati Sinta menjadi resah, tak tau
yang apa ter-jadi pada Yusuf. Hari-hari Sinta menjadi resah, gelisah, tak
menentu. Tak tau apa yang harus ia lakukan. Wajah Yusuf selalu membayangi dirinya.Ia mencoba
mengirim pean lewat facebook berkali-kali belum ada balasan dari Yusuf. Ia
mencoba me-nelpon tapi nomornya selalu tak aktif, pertanda apa ini? Sinta
bingung harus berbuat apa. Tak tau harus bagaimana.
Berharap
Yusuf nggak kenapa-kenapa. Hanya Yusuf satu-satunya orang yang di cintai Sinta,
berharap dan selalu berharap yang terbaik untuk kekasihnya yang jauh di sana.
Saat
malam yang sunyi Sinta duduk terdiam memikirkan Yusuf, dalam hati Sinta berkata
“ Haruskah dirimu kan ku harap selalu? Sementara aku tak mam-pu menghampiri
dirimu, jujur aku sangat mencintaimu. Kesederhanaanmu, ke-ber-anianmu, kagumkan
jiwaku. Ingin ku bawa rinduku ini ke pangkuanmu.” Dalam hati Sinta
Hati
Sinta begitu bimbang, tak tau arah harus melangkah kemana.
*
* * *
Satu
minggu Sinta terlarut dalam kesedihan, tak
nafsu makan. Selalu, me-mikirkan Yusuf.
Tiba-tiba telepon sinta bunyi,
ternyata Yusuf menelponnya, kemudian ia bergegas untuk mengangkatnya.
“Hallo, Assalamu’alaikum..” jawab
Sinta.
“Wa’alaikumsalam, maaf ya, Sin. Aku
baru bisa hubungi kamu, kemarin aku lagi sibuk kuliah.” kata Yusuf.
“Iya nggak apa-apa, tapi setidak-nya
balas pesan aku.Aku nggak bisa ka-mu cuekin, Yus. Aku khawatir dengan ke-adaanmu
di sana. Aku takut kamu ke-napa-kenapa.” ucap Sinta.
“Maafin aku, Sin. Lain kali aku janji
nggak akan gitu lagi, sekali lagi aku minta maaf ya? Aku udah bikin kamu cemas,
Sin.” kata Yusuf.
“Iya, Yus. Sudahlah nggak apa-apa.
Gimana keadaanmu di sana?” tanya Sinta.
“Alhamdulilah, aku di sini baik-baik
saja, Sin. Kamu sendiri gimana, Sin?” ta-nya Yusuf.
“Alhamdulilah, aku juga baik. Tapi kemarin
aku sempat sakit, Yus.” ucap Sinta.
“Ya allah, sakit apa, Sin? Jaga diri-mu
baik-baik, Sin.Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa, Sin. Jangan khawatirkan aku disini, Sin. Aku bisa jaga diri di sini. Jangan
berpikiran aneh-aneh tentang aku, Sin. Aku
nggak mungkin khianati cinta kita, Sin.
Percayalah padaku.” kata Yusuf.
“Iya, Yus. Aku percaya pada-mu. Sudah, lebih baik kita tidur, sudah terlalu
malam. Nggak baik buat kesehatan.” Ba-las
Sinta.
“Oke, met tidur ya sayangku. Mim-pi indah.” ucap Yusuf.
“Iya, sama-sama.
Assalammu’ala-ikum..” ucap Sinta.
“Wa’alaikumsalam…” jawab Yusuf.
*
* * *
Beberapa bulan telah berlalu, kini
Sinta hanya di rumah saja.Tak bisa me lanjutkan kuliah, karena faktor biaya.Sinta hanyalah anak orang
yang kurang ber-kecukupan, hidup serba pas-pasan. Pe-nuh kesederhanaan, tak
perlu ber-mewah-mewahan. Tapi kini ia terlarut dalam kesedihan, tak bisa kuliah
bersama ke-kasihnya.
Tanpa ia sadari, waktu begitu ce-pat.
Yusuf mengirimkan pesan untuknya, yang berisi,
“Sinta, maafkan aku, aku nggak bisa
nglanjutin hubungan kita. Maafin aku, karena aku telah jatuh hati pada teman
kuliahku disini.Aku nggak bisa pungkiri rasaku padanya.Setiap hari aku selalu
bersama saat pergi ke kuliah.Kini rasa sayangku telah berpihak padanya, maafin
aku, Sin. Tak apa jika sekarang kau benci denganku, tapi aku coba buat jujur
pada-mu, dari pada aku di sini terus mem-bohongimu. Hanya kata maaf yang bisa
ku ucapkan untukmu, aku bukan yang terbaik untukmu.Semoga kau menemukan yang
lebih baik dariku. Jaga dirimu.” pesan Yusuf.
Dengan tangis Sinta membaca pesan
Yusuf.Tak tau kenapa Yusuf bisa mengkhianati cintanya. Cinta yang selama ini ia
dambakan, ia harapkan, yang ia ba-nggakan tapi kini berubah seperti api yang
membakar hatinya. Rasa cinta yang ada di dalam hatinya kini berubah jadi benci
yang selamanya tak bisa di lupakannya.
Tapi Sinta harus sadar bahwa ia tak
pantas untuk Yusuf, Sinta hanyalah or-ang biasa. Masih banyak kekurangan, wajar
jika Yusuf terpikat hati dengan tem-an kuliahnya, yang lebih bisa mengerti
Yusuf.
Kini Sinta harus rela menerima semua
yang telah terjadi padanya.
Pada suatu malam, Sinta melamun
membayangkan nasib malangnya. Kini ia merasa sendiri, sepi tanpa di temani
orang yang pernah hadir dalam hidupnya.
Ia menulis sebuah puisi, untuk
menghilangkan rasa sedih yang ada dalam hatinya.
“Cukup Sudah”
Lihatlah aku,
Merenung
sendiri, meratapi luka yang kau beri,
Perasaan
hati yang perih, me-mbuatku tersakiti,
kau
lukai hati ini dengan tingkahmu,
Salah apa aku padamu?
Salah apa kau tega lakukan itu?
Kau buat luka ini,
Membekas menangis teriris perih,
Kau
pergi bersama semua kenangan,
jauh
dan semakin jauh kau me-ninggalkanku,
Kini
aku sendiri, hanya ada luka yang membekas dihati yang me-nemani hari-hariku,
Cukup
sudah kisah manis yang pernah kita lalui,
Semoga
kau bahagia dengan pi-lihan hatimu.
Sinta harus rela menerima ke-adaan
yang di alaminya, tersenyum meski ada beban berat dalam hatinya. Dan kini ia
coba untuk mengawali hidup baru de-ngan semangat yang baru dan mulai
meninggalkan masa lalu. Kini ia tau arti Cinta yang sesungguhnya. Cinta sejati
tak akan pernah terhempas oleh waktu, hanya cinta palsu lah yang bisa mengempas
cinta itu.
Hanya ada satu makna kata cinta yang ada dibenakku “Jika
sebuah cinta, ia akan menerima semua kelebihan bahkan kekurangan pun dianggap
sebuah ke-indahan,
bukan sebuah alasan untuk meninggalkannya.”
SELESAI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar